Cinta, tapi Kok Berantem Terus?

Thursday, June 25, 2009 metagora 0 Comments

Jika Anda dan pasangan cenderung lebih sering bertengkar daripada pasangan lain, tak usah buru-buru mengira Anda tak cocok satu sama lain. Merasa terganggu dengan kebiasaan-kebiasaan pasangan bisa menjadi suatu tanda bahwa Anda terikat secara sehat dengan pasangan Anda, dan bukannya makin terpisah, demikian menurut sebuah studi dari University of Michigan. “Artinya Anda justru menjadi makin nyaman dalam mengekspresikan perasaan Anda kepada pasangan,” kata Kira Birditt, PhD, salah satu tim peneliti, seperti dikutip situs www.prevention.com.

Anda juga tak perlu heran bila pasangan yang sudah menikah lebih dari 10 tahun pun masih akan rajin bertengkar. “Menurut saya sih, sampai kapan pun suami-istri itu masih akan terus menyesuaikan diri. Sampai sekarang pun, saya masih menemukan hal-hal baru dari pasangan (yang menyebabkan perbedaan pendapat),” kata Setyo (37), yang sudah menikah 11 tahun.

Kadang-kadang memang sulit untuk berkata jujur kepada pasangan mengenai apa yang dirasakan. Banyak perempuan juga merasa takut ditinggalkan oleh pasangannya jika menyampaikan sesuatu yang tidak menyenangkan. Padahal, dengan menyimpan sendiri masalah tersebut dalam hati, justru akan membuat masalah menumpuk dan meledak begitu tak dapat ditahan lagi.

Agar bisa “berantem” dengan sehat tanpa takut kehilangan pasangan, inilah yang perlu Anda lakukan:

Tidak menyampaikannya di depan orang lain. Anda mungkin kesal karena suami tak juga mengurangi konsumsi rokoknya. Namun jangan melarangnya merokok saat ia sedang ditawari teman-temannya. Apalagi sambil mengatakan, “Kamu itu kan sudah enggak boleh merokok lagi sama dokter? Kalau sudah masuk rumah sakit baru tahu rasa!” Wuih… takuuuut…! Lebih baik Anda berbicara secara pribadi dengannya setelah tiba di rumah.

Cari waktu yang tepat. Anda harus pintar-pintar mengenali kapan hatinya sedang in the mood. Capek sepulang kerja (karena pikirannya sedang tersita dengan proyek di kantor), atau malam sebelum ia harus melakukan pekerjaan yang berat esok paginya, bukan waktu yang tepat untuk mengatakan bahwa ibunya selalu mencari gara-gara dengan Anda. Pagi hari sebelum ia ke kantor juga bukan waktu yang baik untuk membahas sesuatu. Jika hari diawali dengan rasa kesal, bisa jadi mood-nya akan berantakan sepanjang hari.

Jangan menundanya. Jika permasalahannya menyangkut uang, atau hal sensitif lainnya, diskusikan saja secepatnya karena waktu yang tepat tidak akan pernah ada. Lebih baik suami mengetahui bahwa Anda punya hutang saat jumlahnya masih tidak begitu besar sekarang, daripada mendapati debt collector mulai meneror rumah Anda.

Lakukan dengan cepat. Bayangkan Anda sedang menarik plester dari kulit Anda: lakukan dengan cepat supaya sakitnya cepat hilang. Jika si dia menegur Anda karena suatu kesalahan yang Anda lakukan, akui saja. Jangan membela diri dengan terlalu banyak berbicara, karena Anda hanya terkesan sedang mencari-cari alasan. Segeralah meminta maaf, karena bagi pria yang penting adalah Anda mau mengakui kesalahan.

Sadarilah bahwa Anda pun memiliki kekurangan. Sangat tidak adil bila Anda selalu mempermasalahkan kebiasaan pasangan yang tidak Anda sukai. Bertanyalah pada diri Anda, apakah ada kebiasaan Anda yang tidak disukai suami? Contoh gampangnya, suami tak juga berhenti merokok, sedangkan Anda masih juga mengonsumsi makanan yang membuat Anda terkena asam urat. Daripada saling menyalahkan, lebih baik Anda berkompromi. “Oke, aku berhenti makan jeroan. Kamu berhenti merokok!” din/the nest/kompas.com

(sources surya.co.id)

You Might Also Like

0 komentar: