Kiai Vs The Master

Thursday, June 25, 2009 metagora 2 Comments

Istilah hipnosis telanjur populer dan terus digunakan hingga sekarang.
Jadi, tidak benar, jika saat dalam kondisi hipnosis pikiran seseorang bisa dikuasai, ditaklukkan, atau tidak sadar. Justru dalam kondisi hipnosis pikiran seseorang menjadi sangat fokus dengan intensitas yang sangat tinggi.

MEMBACA berita di Surya (Sabtu, 6 Juni 2009) berjudul “The Master Diharamkan, Penonton Dosa”, saya tergelitik. Menyikapi “fatwa” hasil bahtsul masail di Pondok Pesantren Abu Dzarrin itu, saya teringat sebuah anekdot menarik, yang pernah dimuat di korannya Gus Dur saat menjabat Presiden (Duta Masyarakat) seputar dunia pesantren.
Pada suatu forum pengajian di sebuah pesantren, seorang kiai ditanya santrinya “Mohon maaf kiai, saya mau bertanya, apa hukumnya mikrofon? Tanpa basi-basi kiai itu langsung menjawab,“Mikrofon itu hukumnya haram.”

Serta merta santri tadi terbelalak, terheran-heran. “Maaf kiai, berarti kiai menggunakan sesuatu yang haram, lha itu kiai sendiri pakai mikrofon.” Kiai itu langsung menukas, “Lha apa mikrofon itu? Santrinya langsung menjawab, “Itu lho, yang sedang kiai pegang dan gunakan untuk pengeras suara.” Dengan agak tersipu malu akhirnya kiai tadi meralat: “Oh.., ini toh mikrofon, kalau yang ini ya seratus persen halal.”
Belajar dari anekdot di atas, dengan tidak bermaksud merendahkan dunia pesantren yang nota bene dunia saya sendiri, sepantasnya sebelum memutuskan sebuah fatwa, kalangan “ulama” perlu memahami substansi permasalahan yang akan difatwakan. Lucu dan naif jadinya, apabila ulama yang dianggap alim dan lebih tahu, semaunya mengeluarkan fatwa atas sesuatu yang belum benar dimengerti.
Mengutip berita di Surya, Khoirul Rozi selaku koordinator acara menyatakan bahwa diharamkannya acara The Master, karena acara itu menyesatkan dengan menampilkan atraksi-atraksi di luar taraf kekuatan manusia biasa yang diduga dibantu oleh jin atau makhluk halus lain.
Dari pernyataan itu, tercermin masih minimnya pemahaman kalangan peyelenggara bahtsul masail terhadap “mind power” atau kekuatan pikiran dengan optimalisasi bawah sadar (sub-concious mind), yang menjadi basis kekuatan para “pekerja misteri” (meminjam istilah Romy Rafael).
Menurut khasanah ilmu “mind power” kekuatan bawah sadar manusia itu 80 persen, sedangkan kekuatan sadar hanya 20 persen. Bila manusia bisa mengelola kekuatan bawah sadar ini, mereka dapat menampilkan dan melakukan sesuatu yang dianggap “ajaib” oleh orang lain yang tidak atau belum terlatih.

Pelajaran Imam Ghozali
Para ulama di zaman ini, kiranya perlu belajar dari Imam Ghozali. Sebelum menyerang kelemahan ilmu filsafat, beliau belajar mendalami filsafat selama kurang lebih 12 tahun, dengan melakukan uzlah (menyendiri). Sesudah memahami filsafat secara komprehensif, Imam Ghozali baru “turun gunung”, dan menulis kitab yang mengulas kelemahan filsafat.
Salah satu bagian tayangan The Master, adalah hipnosis. Pertunjukkan hipnosis adalah penggunaan potensi alam bawah sadar ketika seseorang dalam kondisi “trance” untuk menggali potensi “inner power” guna meraih tujuan dan kebutuhan tertentu. Ada hipnosis untuk pengobatan atau terapi, pendidikan, spiritual, seni atau pertunjukan panggung dan lain-lain.
Ada banyak definisi hipnosis, namun definisi yang paling banyak digunakan saat ini adalah “Hypnosis is the bypass of the critical factor of conscious mind and the establishment of the acceptable selective thinking.”. Kurang lebih berarti : hipnosis adalah penembusan faktor kritis pikiran sadar dan diterimanya pemikiran tertentu.
Menurut Adi W Gunawan (pakar hipnosis dari Surabaya), definisi di atas sama sekali tidak menyinggung “ilmu” atau “kekuatan” yang ditakutkan oleh kebanyakan orang. Jadi,
hipnosis sebenarnya sangat sederhana.
Saat terjadi penembusan critical factor dan diterimanya suatu pemikiran (baca: sugesti, ide, atau afirmasi) tertentu, maka pada saat itu telah terjadi hipnosis.
Masih menurut Adi, kata “hypnosis” pertama kali digunakan oleh James Braid pada 1842. Kata ini berasal dari bahasa Yunani, Hypnos, nama dewa tidur. James Braid semula berpikir hipnosis sama dengan tidur.
Setelah memahami dengan benar, kondisi hipnosis ternyata tidak sama dengan tidur. Justru dalam kondisi hipnosis, seseorang akan sangat fokus pada satu ide atau pemikiran. Tahun 1847, James Braid mencoba mengganti kata hypnosis dengan mono-ideaism.
Namun istilah hipnosis telanjur populer dan terus digunakan hingga sekarang.
Jadi, tidak benar, jika saat dalam kondisi hipnosis pikiran seseorang bisa dikuasai, ditaklukkan, atau tidak sadar. Justru dalam kondisi hipnosis pikiran seseorang menjadi sangat fokus dengan intensitas yang sangat tinggi.

Medium Medis
Saat sadar, gelombang otak kita berada di kondisi beta (14-22 hz). Untuk hipnosis, gelombang otak harus berada pada kondisi alpha (7-14 hz) atau tetha (4-7 hz) atau delta (0,5-3 hz). Semakin rendah gelombang otak, makin mudah diberi sugesti. Kunci dari keberhasilan hipnotis adalah sugesti yang kuat dari seseorang yang sudah terlatih.
Apabila The Master sebagai reality show menyuguhkan beberapa atraksi yang di antaranya didasari dengan penggunaan “stage hipnosys” (hipnotis panggung), lalu dihukumi haram, dan yang nonton berdosa, menurut saya ini jelas fatwa “gebyah uyah” atau overgeneralization.
Para pekerja misteri, seperti Romy Rafael atau Deddy Corbuzier, menggunakan hipnosis atau mentalism di panggung untuk menghibur pemirsa televisi. Lain lagi ketika Romy sedang praktik terapi, yang digunakan tentu hipnoterapi, yang tidak ada unsur bantuan makhluk halus atau jin.
Bahkan, Ibnu Sina tokoh kedokteran muslim yang banyak dirujuk oleh bangsa Barat, telah menggunakan hipnosis sebagai medium membius pasien ketika obat bius belum ditemukan. Jadi, apakah hipnosis masih dinggap haram?

Drs Suwarno
Kandidat Magister UM, sedang meneliti masalah hipnosis untuk meningkatkan prestasi belajar siswa

(sources surya.co.id)

You Might Also Like

2 comments:

  1. Saran saya sih, sebaiknya di teliti dulu sebelum mengeluarkan fatwa. Sulap kan cuma trik, saya juga bisa merubah uang 1.000 jadi 20.000 dengan gerakan cepat di tangan. Waktu lihat sih kaget juga, tp begitu saya diajarkan oleh pesulapnya...ternyata trik belaka.

    ReplyDelete
  2. hehehe...itulah Indonesia pak... sering bkin peraturan gag terlalu urgent... nama ujian anak SD aja berubah2.. jaman saya dulu masi THB.. ganti TPB, trus TSS, TS, bla..bla.. sekarang apalagi itu istilahnya... hehehe.. piss..

    ReplyDelete